Hukum Membaca Al Quran dengan Teks Latin

PERTANYAAN :
Assalamualaikum. Saya mau bertanya. Kalau membaca surah atau Al Quran menggunakan latin (bahasa Indonesia), tetapi baca tulisan arab/qurannya tidak bisa, apakah tetap mendapatkan pahala? Terimakasih

JAWABAN :
Waalaikumussalam. Apabila yang dimaksud adalah membaca terjemahan bahasa Indonesia maka tidak dianggap membaca Al Quran, karena Al Quran adalah kalam Allah yang diturunkan dengan bahasa Arab. Adapun terjemah Al Quran bukanlah Al Quran, tapi merupakan tafsir atau penjelasnya.

Apabila yang dimaksud adalah membaca Al Quran dengan bahasa Arab yang ditulis dengan huruf latin, maka perlu diingat bahwa huruf Arab dan huruf latin berbeda, sebagaimana struktur hurufnya juga berbeda, sehingga teks latin tidak mungkin bisa menggantikan teks Arab seratus persen. Dan hal ini akan berkaitan dengan pengucapan huruf yang tidak sesuai dengan lafadz asli berbahasa Arab, seperti huruf-huruf yang mirip dalam bahasa Arab (misalnya : س، ث، ص، ش atau ت، ط atau ذ، ظ) atau panjang pendeknya, yang dalam bahasa Arab bisa merubah arti ketika tertukar dalam mengucapkan huruf.

Dalam membaca Al Quran dikenal ilmu tajwid yang merupakan kaidah dalam mengucapkan bunyi bacaan huruf berbahasa Arab dalam Al Quran. Hukum menggunakan tajwid dalam membaca Al Quran sendiri terdapat 2 pendapat di kalangan ulama :

  1. Wajib menggunakan semua hukum tajwid dalam membaca Al Quran. Ini adalah pendapat para ulama tajwid. 1)
  2. Tidak semua hukum tajwid wajib dalam membaca Al Quran. Yang wajib dalam mengucapkan huruf adalah yang tidak merubah arti. Ini adalah pendapat para fuqaha. 2)

Dalil
1. Pendapat yang mewajibkan tajwid.
a. Firman Allah :
ورتل القرآن ترتيلا
“Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (QS. Al Muzzammil : 4)
b. Firman Allah :
الذين آتيناهم الكتاب يتلونه حق تلاوته
“Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya.” (QS. Al Baqarah : 121)
c. Hadits Anas bin Malik ketika ditanya tentang cara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam membaca Al Quran, dia menjelaskan :
كانت مدًّا، ثم قرأ: {بسم الله الرحمن الرحيم}، يمد {بسم الله} ويمد {الرحمن}، ويمد {الرحيم}
Bacaan beliau panjang. Kemudian membaca (بسم الله الرحمن الرحيم) dengan memanjangkan bacaan (سم الله) dan (الرحمن) serta (الرحيم). 3)
d. Hadits Ibnu Mas’ud, bahwa ketika beliau mendengar ada orang membaca (إنما الصدقات للفقراء) dengan memendekkan lafadz (للفقراء) (tidak membaca mad), beliau berkata : “Bukan demikian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari kami membacanya. Beliau membaca ayat tersebut dengan mad.” 4)

2. Pendapat yang tidak mewajibkan semua hukum tajwid.
a. Hadits Jabir, bahwasanya suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar menemui para sahabat ketika mereka sedang membaca Al Quran, diantara mereka ada orang Arab serta orang non Arab, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
اقرؤوا؛ فكل حسن، وسيأتي قوم يقيمونه كما يقام القِدح؛ يتعجلونه ولا يتأجلونه
“Bacalah, karena semuanya baik.Dan akan datang (di masa yang akan datang) kaum yang menegakkannya sebagaimana ditegakkannya anak panah, mereka terburu-buru dengannya dan tidak memperlambatnya.” 5)

Pembahasan Dalil

  1. Dalil yang disebutkan oleh pendapat pertama tidak secara jelas menunjukkan kewajiban membaca dengan semua hukum tajwid, seperti ghunnah, ikhfa dan sebagainya.

Kesimpulan
Membaca Al Quran harus dengan tartil dalam artian bacaan yang benar tidak merubah artinya karena salah mengucapkan bunyi huruf atau panjang pendeknya, adapun hukum tajwid yang lain apabila digunakan dengan benar akan mendapatkan pahala tambahan karena membaca dengan baik.

Catatan
Orang yang kesulitan dalam membaca Al Quran akan tetap mendapat pahala selama dia mau belajar, sebagaimana dalam hadits Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
“Orang yang pandai dalam membaca Al Quran bersama para malaikat penulis yang mulia, sedangkan yang membaca Al Quran dengan terbata-bata karena kesulitan dia akan mendapatkan dua pahala.” 6)

Referensi :
1) Ar Ri’ayah Li Tajwidil Qiraah wa Tahqiqi Lafdzit Tilawah hal 254
2) Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (10/180)
3) HR Bukhari no 4759
4) HR Thabrani no 8677
5) HR Ahmad (3/397) & Abu Dawud
6) HR Muslim no 798

=========================
KAFIA (Kajian Fiqh Aplikatif)
Dibawah asuhan:
Pusat Kajian Al Quran
Pondok Modern Darul Falach Temanggung
PKQ.DarulFalach.com

=========================

Bergabung Sekarang!

Grup Khusus Putra:

Grup Khusus Putri:

=========================